Wednesday, March 26, 2014

Cara Mengajarkan Anak Berbicara dan Berpendapat


Di Kompasiana, Herry B. Sancoko menulis artikel menarik soal bagaimana mengajarkan anak-anak berbicara dan menyampaikan pendapat. Ia bercerita bahwa di Australia ternyata cara mengutarakan pendapat telah dilatih sedari usia dini:

DI AUSTRALIA, anak-anak sejak TK sudah diajarkan untuk mengemukakan pendapat mereka. Mereka satu-satu diwajibkan untuk tampil ke depan kelas dan bercerita tentang tema yang ditentukan.
Seperti apa cara mengajarkan anak-anak berbicara dan menyampaikan pendapat?

1. Jangan Egois
 
Sebagian besar orangtua atau kaum dewasa memperlakukan anak kecil sebagai anak kecil yang perlu dilindungi dan dibimbing. Kadang tujuan baik ini tidak begitu memperhatikan kemauan atau pendapat anak. Orangtua atau kaum dewasa merasa punya pengalaman dan anak kecil perlu mendengarkan apa pendapat orangtua atau kaum dewasa di sekitarnya demi kebaikan mereka sendiri.

2. Hindari Otoritas Berlebihan

Sejak kecil kita dilatih untuk mengenal otoritas. Kita tidak bisa berpendapat seenaknya melawan otoritas. Figur orangtua adalah figur otoritas yang ditanamkan sejak dini. Maka ketika si anak menjadi seorang individu dewasa, sikap pada figur yang punya otoritas membuatnya hati-hati untuk berpendapat.

Jika otoritas dirasa tidak bisa dilawan, maka mereka menempuh jalur lain yang populer tapi tidak menyelesaikan masalah yakni dengan nggrundel, rasan-rasan, gunjingan, atau bergosip ria. Mereka mencari teman, golongan, kelompok setara yang bisa menampung kegundahan mereka. Dukungan kelompok yang merasa senasib ini cukup efektif dalam mereduksi gejolak karena selisih pendapat. Sebuah pengalaman masa kecil saat nggrundel terhadap orangtua mereka diteruskan hingga ke alam dewasa.

3. Tahu Batasan

Berpendapat menjadi sesuatu yang sarat dengan nilai budaya. Hubungan bawahan dan atasan menjadi semacam transformasi dari kehidupan dalam sebuah rumahtangga antara bapak dan anak. Bapak dan anak harus bisa saling menempatkan diri secara budaya. Anak boleh memberi pendapat tanpa terkesan frontal dan kasar kepada bapaknya. Bapak dalam menasehati anaknya harus tahu batasnya sehingga tidak memberi kesan diperlakukan sebagai anak yang belum dewasa.

Jika seorang bawahan mengkritik dengan pedas atasannya, maka atasan dengan segala otoritas yang dipunyai akan menjegal habis anak buahnya. Dan sebaliknya, jika atasan mengkritik dengan pedas anak buahnya, maka atasan tersebut tidak lagi dipandang sebagai orangtua. Dengan demikian tidak pantas untuk menjadi atasannya. Atasan harus bisa menjadi contoh dan pengayom anak buah.






No comments:
Write comments